Jakarta, CNN Indonesia

Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulumi Wal Amal, Kelurahan Ntobo, Kecamatan Raba, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) memutuskan Hari Raya Idulfitri atau Lebaran 1445 Hijriyah/2024 Masehi jatuh pada Senin (8/4).

Salat Id akan digelar di ponpes tersebut dengan diikuti santri, alumni, dan ratusan warga lain.

Kepastian tersebut diungkapkan oleh pengasuh Ponpes Darul Ulumi Wal Amal, Afandi Bin Ibrahim Al Maqbul. Dia mengatakan jemaah Salat Idul Fitri di ponpes pimpinannya diperkirakan akan berjumlah ratusan orang.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Insya Allah Salat Idul Fitri akan dilaksanakan Senin lusa. Sebab hari Minggu, (7/4) besok, kami genap 30 hari melaksanakan puasa,” ujar pria yang akrab disapa Aji Fendo itu saat ditemui di rumahnya di Ntobo, Sabtu (6/4).

Aji Fendo mengatakan pelaksanaan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1445 H yang mendahului penetapan pemerintah itu bukanlah kali pertama. Namun, sudah berlangsung lama, bahkan sejak dia belum lahir.

“Seperti ini sudah lama, mulai tahun 1933 lalu. Dari nenek moyang saya yang berasal dari Makkah kemudian dilanjutkan orang tua dan saya,” ujar pria kelahiran tahun 1943 itu.

Selain Salat Idul Fitri, Aji Fendo menjelaskan penetapan puasa setiap tahun juga lebih awal beberapa hari dari pemerintah. Adapun, metode yang dipakai dalam menetapkan puasa dan Idul Fitri yakni hitungan hisab bin nadariyah dan dzuhuriyah, yang tertuang dalam kitab Muinul Mubin.

“Selama ini kami tidak pakai kalender Hijriah maupun Masehi dalam menetapkan puasa dan Idul Fitri. Kami puasa tetap 30 hari. Salat Tarawih 22 rakaat dan 23 rakaat dengan Witir,” ujar Aji Fendo.

Ia mengaku dalam menetapkan awal puasa Ramadan ataupun salat Id selama ini tidak pernah diumumkan. Namun, warga kerap datang ke rumahnya untuk menanyakan jadwal dan kepastian awal puasa hingga Salat Id.

“Soal ini tidak pernah diumumkan. Warga malah ikut sendiri. Saya juga menyarankan agar salat Id dilaksanakan di rumah masing-masing. Tapi warga tetap datang, dan saya tidak bisa melarang,” ujar Aji Fendo.

Dia membeberkan menambahkan setiap tahun warga yang mengikuti salat Idul Fitri dan Idul Adha di ponpesnya bisa mencapai 400 orang. Mereka berasal dari wilayah Kabupaten Bima dan Kota Bima.

“Selain selain alumni ponpes dan para murid-muridnya, kebanyakan yang datang mengikuti salat Idul Fitri di sini adalah warga umum,” terang Aji Fendo.

Aji Fendo berharap pelaksanaan salat Idul Fitri yang lebih awal dari pemerintah itu tidak dipersoalkan. “Ada yang duluan ataupun menunggu pemerintah tidak menjadi soal,”¬†tegas Aji Fendo.

Baca selengkapnya di sini.

(tim/isn)

[Gambas:Video CNN]





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *